NASIOANAL

Ansor Sumut Kecam Suginur ‘Umbar’ Kebencian dalam Mesjid

Bisanews.id-Medan-Ansor Sumut Kecam Suginur ‘Umbar’ Kebencian dalam Mesjid-Safari dakwah Suginur Alias Gus Nur di beberapa masjid di Medan-Sumatera Utara, tampaknya menyisahkan kemirisan dan kepiluan di tegah-tengah ummat Islam.Bahkan ustadz yang berstatus tersangka ujaran kebencian itu, dakwahnya dinilai cuma mengumbar kebencian dan mencoreng citranya sebagai penyampai kebenaran Islam.

“Perampasan mikrofon, penghinaan terhadap ummat Islam lainnya dengan menjuluk-juluki nama binatang, juga ancaman, serta prilaku anarkisme terhadap jamaah yang terjadi pada safari dakwah Cak Nur, tidak bisa dibenarkan,” kata Sekretaris GP (Geraka Pemuda) Ansor Sumatera Utara, Parulian Siregar, Selasa (19/2/2019).

Tindakan anarkis di rumah Allah itu (mesjid red) sudah di luar norma agama, lanjut pria yang akarab di sapa Parulian itu, dalam Islam tindakan merampas mikrofon jamaah saat dialog serta menyeret jamaah itu tak diajarkan. “Kalau tidak sanggup berdialog dan takut menerima masukan jangan buat acara seperti itu di dalam masjid yang merupakan rumah ibadah ummat Islam itu. Buat di markas sendiri atau dihutan sekalian,” ketusnya

Untuk itu, sambung Parulian, marilah ummat Islam benar-benar mempelajari Islam dan menjalankan ajaran itu dengan sesungguh-sungguh. “Saya berharap teriakan-teriakan Allahu Akbar dan lantunan shalawat agar disesuaikan dengan kelakuan dan menjaga kemuliaan masjid serta kesucian Islam. Islam is calm, peaceful, cool and conducive (Islam itu tenang, damai, sejuk, dan kondusif),” urainya.

Terhadap penceramah, lajutnya, berdakwahlah  dengan kedamaian, jangan malah sebaliknya dakwah menjadi pemicu bentrokan sesama Islam.“Kita kecewa dengan safari dakwah Gus Nur, apalagi isi dakwahnya terbilang hampir tidak ada untuk mengajak kepada jalan kedamaian di tengah-tegah ummat Islam sendiri. Bahkan, terbilang cuma untuk mengumbar kebencian dan menghujat,” tukas Parulian Siregar.

Dari materi dakwah dan cara penyampaian Gusnur, jelas Parulian Siregar, tak lebih seperti gaya aktivis yang lagi orasi mimpin demo. “Inikan sangat memalukan dan mencoreng citra ustadz sebagai penyampai kebenaran Islam, sehingga para jamaah bertambah keimanannya, ilmunya, juga memperoleh ketentraman hati,” urai alumnus UIN Sumut itu, sembari menambahkan bahwa mendengarkan dakwah itu merupakan kebutuhan, terlebih keimanan itu sifatnya,al imanu yazidu wa yanqushu (selalu bertambah da berkurang).

Dari dakwah Gusnur di berbagai masjid di Sumut, terang Parulian, materinya juga diulang-ulang atau itu itu saja. “Dari topiknya yang diulang-ulang dan dominan bernada mengumbar nafsu kebencian. Saya jadi ragu Gus Nur itu paham tugas ustadz, atau malah tidak..?,” ketusnya.

Atau sama sekali Gus Nur bukanlah ustadz, tegas Parulian, dan tidak bisa jadi ustadz,  dikarekanakan  ilmunya yang tak memadai alias tak mumpuni. “Kalau hal tersebut betul-betul terjadi, maka kehancuranlah yang akan datang, karena ummat akan tersesat,” ujarnya.

Dan khusus bagi Oknum Front Pembela Islam (FPI) yang bertindak anarkisme di dalam Masjid. “Kami ingat (warning) bahwa itu rumah Allah, yang dikunjungi seluruh ummat Islam. Ada norma atau aturan dalam masjid tersebut, serta siapapun ummat Islam punya hak dan tanggungjawab di rumah ibadah itu,” tukasnya.

Sekadar diketahui, di berbagai tempat safar ceramah Cak Nur di Medan-Sumatera utara, di antaranya di Masjid Amaliyah Helvetia, Kelurahan Helvetia Kecamatan Medan Helvetia, terjadi prilaku anarkis terhadap Muzanni, salah satu jamaah yang mengajukan pertanyaan dalam sesi tanyajawab yang dilakukan oknum berseragam FPI.

Kemudia juga, di Masjid Al-Furgon Desa Klumpang Kebon, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, salah seroang jamaah wanita yang mengajukan pertanyaan juga mendapatkan semacam intimidasi dengan dijuluki cebong oleh suara-suara sumbang, saat memberikan pertanyaan dalam ceramah Cak Nu

Sama halnya, di Masjid Al-Ijtihad  jalan Masjid, Kelurahan Indrakasih, Kecamatan Medan Tembung Kota, peristiwa anarkisme juga terulang.  Parahnya, tindakan tersebut dilakukan di dalam Masjid. Salahsatu jamaah adalah Muhammad Zakirin saat mengajukan pertanyaan, FPI merampas mikrofonnya.

Mirisnya, jamaah tersebut dipiting di tengah-tengah kerumunan massa diarak ke luar masjid, serta diteriaki kata-kata munafik, kafir, penyusup, cebong, serta tudingan bayaran rezim, oleh puluhan orang mengunakan seragam FPI.(Thh)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close