SERGAI | Bisanews.id | Dua atlet pencak silat muda asal Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, gagal diberangkatkan ke ajang Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) VIII yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2025. Kegagalan ini memicu kekecewaan mendalam dari orang tua atlet dan memunculkan pertanyaan besar terhadap transparansi dan tanggung jawab pengurus organisasi terkait.
Kedua atlet tersebut adalah Muhammad Hafiz Maulana (16) dan Muhammad Fauzil Fahri (17), bersama satu orang ofisial dari Perguruan Pencak Silat Rajawali, Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Sergai. Mereka sebelumnya dijanjikan akan diberangkatkan sebagai bagian dari kontingen Asosiasi Perguruan Pencak Silat Budaya Indonesia (APPSBI) Sumatera Utara.
Namun, secara tiba-tiba, keberangkatan mereka dibatalkan tanpa penjelasan yang jelas dari pihak pengurus, khususnya Ketua APPSBI Sumut, Irwan. Hingga berita ini diterbitkan, Irwan belum memberikan klarifikasi langsung kepada para atlet maupun ofisial yang terdampak.
Nuraini (39), orang tua dari salah satu atlet, mengungkapkan rasa kecewa dan frustrasinya kepada wartawan pada Minggu (27/7/2025).
“Anak-anak sudah berbulan-bulan berlatih dengan semangat tinggi, karena dijanjikan akan mewakili Sumut di ajang nasional. Tapi pada saat keberangkatan, mereka justru ditinggalkan begitu saja, tanpa informasi, tanpa komunikasi, bahkan ofisial pun tidak diberi kabar,” ungkapnya.
Ia juga menilai sikap Ketua APPSBI Sumut tidak mencerminkan kepemimpinan yang bertanggung jawab, terlebih Irwan juga diketahui menjabat sebagai Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
“Seharusnya beliau lebih peka terhadap dampak psikologis yang ditimbulkan. Anak saya bisa trauma, malu, bahkan kehilangan semangat berlatih. Jangan sampai anak-anak menjadi korban harapan palsu akibat kelalaian organisasi,” tegas Nur Aini.
Menanggapi polemik ini, Irwan, Ketua APPSBI Sumut, akhirnya angkat bicara melalui pernyataan tertulis. Ia menegaskan bahwa kegagalan keberangkatan atlet merupakan konsekuensi dari ketidakpatuhan pihak internal, khususnya manajer tim, terhadap arahan organisasi.
“Ini pelajaran berharga bagi siapa pun yang tidak mau mendengar arahan dan petunjuk dari pimpinan. Ketika sudah diberi tugas sebagai manajer tim, maka harus menjalankannya secara bertanggung jawab, bukan bermain sendiri,” ujar Irwan.
Dalam klarifikasinya,Senin (28/7) Irwan juga menyebut bahwa:
1. Anggaran keberangkatan dari KORMI Sumut belum cair hingga hari H.
2. Jika pun cair, dana hanya cukup untuk satu orang.
3. Atlet dan ofisial lainnya diminta untuk menggunakan dana pribadi (mandiri).
4. Tiket keberangkatan sulit diperoleh karena dipesan mendekati H-2, meskipun sudah diingatkan sebelumnya.
5. Atlet yang direkomendasikan secara resmi oleh dirinya telah didaftarkan ke panitia FORNAS (dengan bukti).
6. Keberangkatannya ke NTB menggunakan dana pribadi, bukan dana organisasi.
7. Ia menyayangkan kegagalan ini dan merasa iba terhadap para atlet dan guru mereka.
8. Evaluasi internal organisasi akan segera dilakukan.
9. Tindakan tegas akan diambil terhadap oknum yang dinilai merusak citra organisasi.
10. Ia mengimbau masyarakat dan keluarga besar pencak silat agar tidak mudah terprovokasi.
“Sebagai Ketua APPSBI Sumut, saya bertanggung jawab dan akan mengambil langkah tegas terhadap pihak-pihak yang melanggar aturan dan mencoreng nama organisasi,” tutup Irwan dalam pernyataannya.
Insiden ini menambah catatan buruk dalam tata kelola organisasi olahraga rekreasi di tingkat daerah. Harapan besar para atlet muda untuk bisa tampil di panggung nasional pupus, menyisakan luka dan rasa kecewa yang mendalam. Klarifikasi sepihak tanpa komunikasi langsung kepada pihak terdampak dinilai belum cukup menjawab persoalan.
Publik kini menanti langkah nyata dari APPSBI Sumut dan KORMI untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
(Herry)





