Dinkes Sergai Gencarkan Deteksi Dini TBC, Pengobatan Gratis

Dinkes Sergai Gencarkan Deteksi Dini TBC, Pengobatan Gratis
Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) melalui Dinas Kesehatan terus menggencarkan sosialisasi dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat melalui Puskesmas, terkait pencegahan dan penanganan penyakit TBC.

SERGAI | Bisanews.id | Penyakit Tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu penyakit menular yang saat ini masuk dalam program prioritas cepat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Pemerintah menegaskan bahwa TBC dapat disembuhkan dan pengobatannya diberikan secara gratis, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini.

Deteksi dini sangat penting, khususnya bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk berdahak lebih dari dua minggu. Menindaklanjuti hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) melalui Dinas Kesehatan terus menggencarkan sosialisasi dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat melalui puskesmas, termasuk terkait pencegahan dan penanganan penyakit TBC.

Dinas Kesehatan Sergai juga menginstruksikan seluruh kepala puskesmas dan pemegang program TBC di tingkat kecamatan agar aktif melakukan penemuan kasus TBC melalui pemeriksaan dahak dan skrining terhadap masyarakat yang berisiko.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Sergai, dr. Yohnly Boelian Dachban, M.Kes, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Nurlaili Hafni, M.K.M, kepada awak media di ruang kerjanya, Senin (2/2/2026).

dr. Nurlaili menjelaskan bahwa penyakit TBC sudah ada sejak lama, sehingga masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin guna mendeteksi gejala sejak dini.

“Kita ditargetkan untuk eliminasi TBC pada tahun 2030. Saat ini Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi kasus TBC di dunia setelah India,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pada tahun sebelumnya Dinas Kesehatan Sergai telah melakukan skrining TBC di sejumlah pesantren. Pada tahun ini, kegiatan serupa akan kembali dilaksanakan di pesantren-pesantren yang belum tersentuh program tersebut.

Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Sergai untuk melakukan sosialisasi tentang TBC kepada siswa dan guru di sekolah-sekolah.

“Nantinya Dinas Pendidikan akan memfasilitasi kami untuk memberikan edukasi kepada anak-anak sekolah mengenai apa itu TBC dan bagaimana cara pencegahannya,” jelasnya.

Lebih lanjut dr. Nurlaili menegaskan, penanggulangan TBC merupakan bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang kesehatan, khususnya dalam capaian penemuan kasus TBC. Melalui puskesmas, yang bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan desa, dilakukan skrining terhadap warga yang memiliki keluhan batuk lebih dari dua minggu, demam, sesak napas, penurunan berat badan, serta keringat malam tanpa aktivitas.

“Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan segera datang ke puskesmas untuk diperiksa oleh dokter,” katanya.

Pemeriksaan dilakukan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan hasil yang dapat diketahui dalam hitungan jam. Apabila pasien dinyatakan positif TBC, maka akan langsung mendapatkan penanganan dan pengobatan di puskesmas.
Obat TBC disediakan oleh pemerintah pusat melalui Dinas Kesehatan Provinsi dan disalurkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sergai, kemudian didistribusikan ke puskesmas. Seluruh pengobatan TBC diberikan secara gratis.

“Pasien TBC akan menjalani pengobatan selama enam bulan dan semuanya gratis,” terang dr. Nurlaili.
Ia menambahkan, apabila pasien tidak patuh dalam mengonsumsi obat, maka dapat berkembang menjadi TBC resisten obat. Kondisi ini mengharuskan pasien menjalani pengobatan lanjutan yang dikenal sebagai Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) selama kurang lebih satu tahun.

Karena itu, pasien yang telah terdiagnosis TBC diwajibkan mengonsumsi obat secara teratur tanpa terputus selama enam bulan, dengan pemantauan minum obat yang dapat dilakukan oleh keluarga maupun kader kesehatan di desa.
“Intinya, masyarakat jangan takut berobat. TBC bisa disembuhkan dan pengobatannya gratis,” tegasnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sergai juga telah melakukan sosialisasi melalui Radio Sergai FM untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit TBC, mulai dari gejala, pengobatan, hingga pencegahannya. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas jika mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, nafsu makan menurun, dan keringat malam.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tidak memberikan stigma negatif terhadap pasien TBC, karena penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. (Her)