Kenagen Kaban Bersama Warga SUMKARA Kabanjahe Bangun Sumur Resapan Ramah Lingkungan

Kenagen Kaban Bersama Warga SUMKARA Kabanjahe Bangun Sumur Resapan Ramah Lingkungan
Tokoh masyarakat Sumbul Kaban Raya (SUMKARA) Kecamatan Kabanjahe, Kenangen Kaban. (Foto : ist)

Medan | bisanews.id | Dalam menjaga lingkungan agar terjaga dari gangguan alam, maka Ikhtiar Warga Sumbul Kaban Raya Berastagi berihktiar untuk menjaga air.

Sebab selama dua tahun terakhir ini, warga Desa Sumbul Kaban Raya (SUMKARA) Kecamatan Kabanjahe selalu dihadapkan dengan persoalan lingkungan yang semakin terasa.

Apalagi persoalan lingkungan itu terutama terjadi disaat musim hujan. Pasalnya genangan air kerap muncul di kawasan permukiman penduduk.

Sebab parit lingkungan meluap, sehingga dibeberapa titik mulai terlihat tanda-tanda erosi tanah yang mengarah pada potensi longsor.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tapi juga menimbulkan kekhawatiran warga akan keselamatan dan kesehatan lingkungan.

Munculnya permasalahan ini seiring dengan perubahan fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman. Padahal lahan yang sebelumnya berperan sebagai daerah resapan air kini, kini tertutup bangunan dan jalan lingkungan.

Akibatnya air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah berubah menjadi limpasan permukaan yang membebani sistem drainase desa.

Kenagen Kaban Bersama Warga SUMKARA Kabanjahe Bangun Sumur Resapan Ramah Lingkungan
Prof. Abdul Rauf sebagai tenaga ahli, bersama Darnianti S.T,M.T saat melakukan pemantauan pengerjaan sumur bor serapan ramah lingkungan di wilayah Sumbul Kaban Raya Kabanjahe. (Foto : ist)

Dan situasi juga diperparah lagi oleh air buangan dari kamar mandi dan aktivitas sanitasi rumah tangga yang langsung dialirkan ke parit terbuka tanpa melalui proses peresapan.

Keluhan warga SUMKARA Kecamatan Kabanjahe inilah, yang kemudian sampai ke Prof. Abdul Rauf yang merupakan Dosen Pertanian USU mendengar langsung persoalan dihadapi masyarakat.

Lalu Prof. Abdul Rauf menilai, bahwa akar masalahnya bukan pada tingginya curah hujan, melainkan hilangnya ruang bagi air untuk kembali ke tanah.

Dari dialog tersebut, lahirlah gagasan penerapan sumur resapan sebagai solusi yang sederhana, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kondisi desa.

Dan gagasan ini mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat Sumbul Kaban Raya (SUMKARA) kabupaten Kabanjahe, Kenangen Kaban yang langsung memfasilitasi pelaksanaan kegiatan di tingkat lingkungan tersebut.

Pembuatan sumur resapan pun dilakukan dengan pendampingan langsung oleh Prof. Abdul Rauf sebagai tenaga ahli, bersama Darnianti S.T,M.T Darnianti dari Universitas Quality Prodi Teknik Sipil, dengan pendekatan teknis yang aplikatif dan ramah lingkungan.

Dimana yang membedakan sumur resapan ini dengan konsep konvensional adalah, pemilihan materialnya. Pipa tidak menggunakan PVC atau beton, melainkan diganti dengan bambu, material alami yang mudah diperoleh, kuat, dan lebih selaras dengan lingkungan.

“Sementara untuk bagian saringan, dimanfaatkan barang bekas berupa kaleng cat, yang dimodifikasi agar mampu menyaring pasir dan lumpur sebelum air masuk ke dalam tanah,” kata Kenangen Kaban kepada media di Medan, Jumat (9/1/2026).

Kenagen Kaban Bersama Warga SUMKARA Kabanjahe Bangun Sumur Resapan Ramah Lingkungan
Terlihat warga bahu-membahu membuat pemboran sumur resapan untuk mengatasi tanah agar tidak terjadi musibah. (Foto : ist)

Pendekatan terhadap warga untuk membangun sumir resapan ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga mengurangi sampah dan memberi nilai edukasi tentang pemanfaatan ulang material.

Sumur resapan tersebut dirancang untuk menampung air hujan dan air buangan rumah tangga non-limbah padat, sehingga tidak langsung membebani parit lingkungan.

Dimana air dialirkan kembali ke dalam tanah untuk meningkatkan infiltrasi, mengurangi limpasan permukaan, serta membantu menjaga kestabilan tanah di sekitar permukiman.

Bagi sekitar 310 kepala keluarga Sumbul Kaban Raya yang bermukim di wilayah ini, keberadaan sumur resapan menjadi harapan baru dalam mengurangi genangan dan risiko kerusakan lingkungan.

Lebih dari sekadar infrastruktur, sumur resapan ini juga menjadi media pembelajaran lingkungan bagi masyarakat untuk lebih baik kedepan.

Warga dilibatkan langsung dalam proses pembuatan, mulai dari penggalian hingga pemasangan saringan, sehingga tumbuh kesadaran bahwa setiap rumah memiliki tanggung jawab terhadap air hujan yang jatuh di sekitarnya.

Apa yang dilakukan di Sumbul Kaban Raya menunjukkan, bahwa solusi lingkungan yang efektif sering kali lahir dari dialog antara keluhan masyarakat dan pengetahuan teknis.

“Dengan pendekatan sederhana, ramah lingkungan, dan berbasis partisipasi warga, sumur resapan menjadi contoh bahwa menjaga air dan tanah dapat dimulai dari langkah kecil, namun berdampak besar,” ucap Kenagen.

“Karena pada akhirnya, air tidak pernah menjadi masalah. Ia hanya membutuhkan satu hal dari kita: ruang untuk kembali ke dalam tanah guna melanjutkan siklus hidrologinya,” tambah Kenangen mengakhiri. (rel/ayu)