SERGAI | Bisanews.id | Program Optimasi Lahan Sawah (Oplah) dan Brigade Pangan (BP) yang dijalankan di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) pada 2024–2025 membuahkan hasil signifikan. Mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan tanam, hingga sebagian sudah memasuki panen raya, seluruh proses berjalan sesuai target.
Berkat keberhasilan tersebut, Sergai kini menjadi lumbung pangan di Sumatera Utara sekaligus daerah pertama di provinsi ini yang mengalami surplus beras. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sergai mencatat, produksi gabah tahun 2024 mencapai 303.517 ton atau setara 174.102 ton beras. Angka ini melampaui capaian Kabupaten Deli Serdang yang memproduksi 301.563 ton, sekaligus meningkat 1.478 ton dibandingkan produksi tahun 2023 yang sebesar 302.039 ton.
Ketua Gapoktan Permai, Desa Pematang Cermai, Samsul Bahri, Jumat (15/8/2025), menyebut keberhasilan Oplah menjadi landasan kuat untuk mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Bersama pemangku kepentingan, Gapoktan siap melanjutkan program ini di 2025 dengan skala lebih luas dan lebih baik,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Gapoktan Keramat Jaya, Desa Pekan Tanjung Beringin, Suyatno. Menurutnya, Oplah telah membantu petani memperbaiki pola tanam sekaligus meningkatkan intensitas panen dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali setahun.
Bendahara Gapoktan Martabe, Desa Pematang Terang, Juner Sitorus, menambahkan bahwa program ini membuat biaya pengolahan lahan berkurang dan menjadikan Sergai sebagai daerah surplus beras pertama di Sumut.
“Kami sangat berterima kasih, terutama kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Semoga tahun depan program ini tetap berlanjut,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan Unit Pengelola Kegiatan Keuangan (UPKK) GP3A Mandiri, Desa Tebingtinggi, Nasib Sianipar, menilai keberhasilan Oplah tercermin dari hasil panen yang terus meningkat setiap musim.
Kepala Dinas Pertanian Sergai, Dedy Iskandar, menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan berbagai pihak yang berkomitmen memajukan sektor pertanian.
“Program Oplah adalah bukti nyata bahwa dengan perencanaan matang dan kerja sama yang baik, ketahanan pangan dapat tercapai,” katanya.
Melihat hasil positif di 2024, Dedy memastikan Oplah dan Brigade Pangan akan diperluas pada 2025 dengan optimalisasi lahan yang lebih luas, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan, serta pendampingan teknis yang berkelanjutan.
“Kita berharap program ini tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga kesejahteraan petani, sekaligus menciptakan ketahanan pangan yang lebih kuat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Herry)





