Medan | bisanews.id | Sejumlah tokoh, mantan pemain, dan legenda hingga pengamat sepakbola Sumatera Utara sepakat membentuk wadah baru bernama Forum Tokoh dan Legenda Sepakbola Sumut.
Pembentukan forum ini berlangsung di Medan tepatnya di Cafe Tasbih, Sabtu (20/9), dengan menghadirkan berbagai nama besar yang pernah mewarnai dunia sepakbola di daerah ini.
Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain, Badia Raja Manurung, Abdu Rahman Gurning, Iwan Karo-karo, Julius Raja, Benny Tomasoa, Wendri, Rafriandi, Dody Safnul, Hadi Bento, hingga Saktiawan Sinaga.
Dalam pertemuan itu, mereka membahas yang berujung sepakat menunjuk Owner PSSK Karo, Petra Jaya Purba, sebagai ketua forum.
Petra Jaya mengatakan, forum ini lahir sebagai ajang silaturahmi sekaligus ruang untuk berbagi pengalaman. Untuk itulah Ia menegaskan, bahwa para legenda punya banyak hal berharga yang dapat diturunkan kepada generasi penerus, baik di SSB maupun klub-klub lokal.
“Ini sebenarnya ajang pertemuan tokoh dan legenda. Lewat forum ini, mereka bisa memberi saran dan pandangan kepada SSB maupun klub-klub. Kita tahu Sumut gudangnya pemain, tapi prestasi belakangan menurun. Pengalaman para legenda ini penting untuk ditransfer kepada yang membutuhkan,”kata Petra.
Ia menambahkan, forum juga akan menjadi paguyuban tempat berdiskusi tentang sepakbola, serta nantinya akan berkoordinasi dengan tokoh lain termasuk pimpinan daerah.
Saat ini, langkah pertama yang dilakukan adalah melengkapi syarat administrasi agar forum memiliki legalitas resmi.
Sementara mantan Manajer PSMS Medan era 2000-an, Benny Tomasoa, yang juga hadir dalam pertemuan itu, menaruh harapan besar terhadap forum.
Ia menilai Sumut terlalu lama tidak menorehkan prestasi di ajang nasional, termasuk PON.
“Terakhir kita juara PON tahun 1989, itu sudah terlalu lama. Saya berharap forum ini bisa membantu meningkatkan prestasi sepakbola Sumut dan kembali membuat kita diperhitungkan di level nasional,” kata Benny.
Sedangkan pengamat sepakbola Sumut, Rafriandi, menilai forum ini sangat penting. Ia menekankan pentingnya konsolidasi agar fondasi sepakbola Sumut kuat, baik dari sisi SDM maupun legalitas.
Namun satu hal yang dia tekankan, forum ini harus jelas dengan dasar hukum yang jelas, agar tidak liar. Keinginan tersebut dijawab anggota forum dengan baik.
“Modernisasi memang tak bisa dihindari, tapi jangan sampai nilai fanatisme dan ciri khas sepakbola Sumut hilang. Seperti halnya Bandung dengan Persib-nya, Medan maupun Sumut itu PSMS. Kalau kita gak perkuat ciri khasnya, bisa hilang. PSMS pun tak dikenal lagi nanti,” katanya.
“Kita beruntung, PSMS main selalu ramai. Karena itu tadi kecintaan, fanatisme Sumut. Sepakbola rap-rap harus ada, padukan dengan teknik. Itu tidak boleh hilang. Ciri khas ada. Makanya lewat forum ini semoga bisa menjadi benteng untuk menjaga heritage sepakbola daerah, sekaligus mendorong pembenahan secara profesional,” ujarnya.
Begitu juga dengan tokoh sepakbola lain, Badia Raja Manurung, mengaku bangga dengan terbentuknya forum tersebut.
Menurutnya, sepakbola Sumut sudah lama tertidur, bahkan PSMS Medan kini hanya berada di kasta kedua.
“Dulu PSMS disegani, banyak pemainnya yang masuk tim nasional. Sekarang justru minim pemain asal Sumut di PSMS. Ciri khas itu hilang. Forum ini harus kita dukung demi marwah PSMS dan sepakbola Sumut,” tegas Badia Raja mengakhiri. (ayu)





