PB ISMI akan Selenggarakan Konferensi Internasional Selat Malaka di Batam, Buka Pendaftaran untuk Pemakalah

PB ISMI akan Selenggarakan Konferensi Internasional Selat Malaka di Batam, Buka Pendaftaran untuk Pemakalah
Para petinggi PB ISMI, dari kiri: Tengku Ryo (sekaligus sebagai ketua pelaksana konferensi), Dr. Yanhar Djamaluddin (Sekjen), Prof. Ilmi Abdullah (Ketua Harian), dan Dr. Wardayani (Bendahara Umum), saat peluncuran rencana penyelenggaraan Konferensi Internasional Pertama Tentang Selat Malaka (The 1st International Conference on The Strait of Malacca/ICSM 2026), Rabu (24/6/2027). (Foto: Azrin Marydha)

Medan | Bisanews.id | Pengurus Besar Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PB ISMI) setelah berkordinasi dengan Internasional Maritime Organization (IMO), meluncurkan rencana penyelenggaraan Konferensi Internasional Pertama Tentang Selat Malaka (The 1st International Conference on The Strait of Malacca/ICSM 2026), yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, 23-24 September 2026, di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau.

Dalam keterangan pers saat meluncurkan rencana kegiatan tersebut di Kantor PB ISMI Jalan Pepaya Medan, Rabu (24/6/2026), para petinggi organisasi ini mengungkapkan, Konferensi ini akan membahas empat tema utama, yakni mengenai Peraturan Global IMO (IMO Global Regulations), Ekonomi Biru (Blue Economy), Masyarakat Adat Laut & Pesisir (Marine & Coastal Indigenous Peoples), dan Keberlanjutan untuk Masa Depan Selat Malaka (Sustainability For The Future).

Untuk konferensi internasional tersebut, PB ISMI khususnya panitia penyelenggara mempersilakan para ahli dan pemerhati kemaritiman menulis makalah dan mendaftarkan diri sebagai peserta konferensi. Makalah itu sendiri mengacu pada tema sentral, yaitu “Menilai Masa Depan Selat Malaka: Regulasi Global IMO, Ekonomi Biru, dan Keberadaan Masyarakat Adat Laut dan Pesisir”.

Secara bergantian, Ketua Harian PB ISMI Prof. Ilmi Abdullah, Sekjen Dr. Yanhar Djamaluddin, Bendahara Umum Dr. Wardayani dan Ketua Panitia Pelaksana Tengku Ryo menjelaskan, tema pertama regulasi global IMO (IMO Global Regulations) ialah mengenai bagaimana menavigasi standar global untuk masa depan yang berkelanjutan bagi Selat Malaka.

Tema kedua, ekonomi biru (Blue Economy) terkait inovasi, ketaanan, dan pembangunan laut yang berkelancutan. Tema ketiga, masyarakat adat laut dan pesisi (Marine & Coastal Indigenous Peoples) menyengkut pengakuan, inklusi, dan hak untuk hidup (bagi masyarakat maritime khususnya di sekitar Selat Malaka), dan tema keempat tentang keberlanjutan untuk masa depan (Sustainability For The Future) ialah tentang gagasan aksi kolaboratif untuk Selat Malaka.

Pengajuan makalah dijadwalkan mulai 25 Juni hingga 1 September 2026, dengan Surat Penerimaan (LoA) ditetapkan mulai 1 Juli hingga 20 September 2026. Kemudian masuk ke hari Konferensi Gabungan 22 sampai 24 September 2026. Untuk jadwal ini, penyelenggara menyiagakan tiga penerima kontak: Tengku Ryo (+62 82116088060), Riswanda Mega Hapsari (+62 822-8474-4113), dan Ruth Silvana Agustinus (+62 813-7095-9721).

Ketua pelaksana konferensi, Tengku Ryo, menjelaskan hingga saat ini sejumlah peserta dari dua Negara yakni, Turki dan Malaysia, sudah mendatar. Diharapkan peserta lainnya dari empat Negara juga akan segera mendatar, yakni dari Singapura, Thailand, Amerika Serikat dan Australia.

Dari dalam negeri sendiri, para peserta diharapkan setidaknya akan mendaftar dari Provinsi Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, dan lainnya selain dari Sumatera Utara. “Kita sengaja membuka konferensi ini pada tanggal 23 September, sebab tanggal tersebut adalah juga merupakan Hari Maritim Nasional kita,” ujar Tengku Ryo.

Inisiatif PB ISMI menggagas penyelenggaraan konferensi ini, menurut Prof. Ilmi Abdullah, berlatar keprihatinan atas ancaman degradasi berbagai aspek di sepanjang garis pantai Selat Malaka. Dengan konferensi ini nantinya, diharapkan akan lahir berbagai gagasan bagi “penyelamatan” Selat Malaka dan masyarakatnya ke depan, mencakup berbagai aspek yang mengacu pada empat tema utama konferensi ini.

“Nantinya, gagasan atau rumusan hasil konferensi ini akan dijadikan rekomendasi untuk disampaikan kan baik kepada pihak IMO, maupun kepada Pemerintah Indonesia, sekurangnya sebagai upaya ISMI memberikan sumbangan pemikiran untuk penataan yang baik dan berkelanjutan dari berbagai aspek, untuk kawasan Selat Malaka,” tambah Dr. Yanhar. (am)