Medan | bisanews. Id | Setelah sukses membuat sumur resapan ramah lingkungan, tokoh masyarakat Sumbul Kaban Raya (SUMKARA) Kabanjahe, Kenangen Kaban langsung merambah ke arah lingkungan.
Adapun bentuk mencintai lingkungan, penggiat lingkungan sekaligus tokoh maayarakat Sumbul Kaban Raya (SUMKARA) Kabanjahe Tanah Karo, Kenangen Kaban langsung melakukan hal lebih positif.
Ia melakukan penanaman pohon di areal-areal yang berpotensi dapat menimbulkan bahaya banjir dan longsor.
Dan jenis pohon yang ditanam adalah, pohon Matoa dari tanah Papua. Pohon ini diambil, karena pohonnya berbuah lezat, serta dapat dijadikan penguatkan bantaran tebing dan bantaran sungai.
Apalagi akar pohon Matoa yang muncul ke permukaan tanah, dapat mengikat bebatuan seperti halnya akar pohon beringin.
Selain itu, pohon Macadamia Nut yang merupakan pohon penghasil kacang almont bernilai ekonomi tinggi, juga berfungsi sebagai pohon penghijauan lahan kritis dataran tinggi.
“Menyambut Hari Sejuta Pohon yang jatuh pada 10 Januari 2026 kemarin, saya tak sendiri menanam pohon. Melainkan saya dibantu keluarga tercinta menanam pohon yang diberikan pada kami. Adapun daerah yang diambil yaitu, kawasan pariwisata Teras Hills SIpiso-piso Tongging, Kab Karo, Sumatera Utara,” kata tokoh masyarakat SUMKARA Kabanjahe, Kenangen Kaban di Medan, Selasa (13/1/2026) malam.
Dikatakan, dalam menjaga eko sistim tanah agar tak terjadi bahaya banjir dan longsor, diperlukan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak baik itu pemerintah, masyarakat dan aktivis pencinta lingkungan agar terciptanya iklim hutan yang baik serta sebagai tempat hidup berbagai flora dan fauna.

“Untuk itulah, saya bersama istri, Darniati S.T M.T Dosen Universitas Quality Prodi Tehnik Sipil beserta keluarga yang dibantu Prof. Dr. Ir Abdul Rauf MP sebagai Wakil Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Sumatera Utara juga Guru Besar Konservasi Tanah dan Pengelolaan DAS Universutas USU, akan terus melakukan inovasi-inovasi positif dalam menjaga lingkungan yang baik. Terkhusus melestarikan hutan di kawasan Tanah Karo sekitarnya sekaligus menyebutkan juga kalau bibib-bibit pohon Matoa dan Macadamia Nut, merupakan donasi dari Forum DAS Sumut,”ucap Kenangen sambil memperlihatkan pohon Matoa asal Papua dan Macadamia Nut.
Menurutnya, menanam pohon baik itu di daerah wisata terutama di lokasi-lokasi yang hutannya gundul, dinilai sangat positif untuk menjaga lingkungan agar terhindar dari gangguan alam yang mana dapat diikuti masyarakat, sehingga lokasi itu terlihat hijau kembali.
Selain itu dapat meningkatkan kualitas udara, hingga menunjang kesehatan mental. Pohon juga menjadi pilar penting dalam menjaga kelestarian alam dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik.
Menurutnya, kegiatan menanam pohon tersebut, merujuk pada Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2008 silam, dimana yang di tandatangani Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak lain bentuk sebagai Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI).
Menanam Pohon adalah, menanam kebaikan sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap bumi demi kelangsungan manusia dan mahkluk hidup lainnya serta perbaikan fungsi hutan.
“Mari mengambil langkah untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai payung lindung bagi kehidupan berkelanjutan. Jadikan Hari Menanam Pohon Indonesia yang sehat demi menjaga bumi dengan menanam pohon, yang merupakan langkah kecil menuju kenyamanan,” pungkas Kenangen mengakhiri. (ayu)





