Rico Waas Diminta Mundur, Aliansi Cipayung Plus Siapkan Demo Lebih Besar Lagi

Rico Waas Diminta Mundur, Aliansi Cipayung Plus Siapkan Demo Lebih Besar Lagi
Aliansi Cipayung Sumatera Utara berfoto bersama di Sekretariat GMNI Sumut di Jalan Candi Mendud Medan, Sabtu (14/2/2026). (Foto : ayu)

MEDAN | bisanews.id | Gelombang kritik terhadap satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan, kini kembali mencuat.

Puluhan massa yang tergabung dalam Cipayung Plus Sumatera Utara menggelar aksi bertajuk Mimbar Kemasyarakatan di depan Balai Kota Medan, Kamis (12/11/2026) kemarin.

Diaksi tersebut, berbagai isu strategis disuarakan, mulai dari dugaan lemahnya tata kelola birokrasi hingga sorotan terhadap kebijakan pembangunan yang dinilai belum menyentuh kebutuhan substansial masyarakat.

Perwakilan massa menyampaikan narasi yang menyebut adanya “wali kota bayangan” sebagai simbol kritik terhadap proses pengambilan kebijakan.

Untuk itukan satuan aksi mahasiswa yang terdiri dari PMII, GMNI Sumut, KAMMI Sumut, PMKRI Sumut, GMKI Sumut dan IMM Sumut bersatu melakukan konfrensi pers guna menyatakan sikap.

Dimana ada beberapa point yang dibacakan Ketua DPD GMNI Sumut, Armando Kurniansyah Sitompul seperti, terjadinya birokrasi sakit dan pelanggaran sistim merit.

Kepemimpinan yang saat ini mencederai semangat Undang-
Undang No 20 Tahun 2023, tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Adanya ASN impor di tubuh Pemko Medan, menyebabkan terasa aneh. Sebab bukan sekedar perpindahan pegawai, tapi bentuk demoralisaai kolektif terhadap ribuan ASN asli Kota Medan yang sudah mengabdi puluhan tahun,” kata Armando mewakili Aliansi Cipayung Plus Sumatera Utara pada konfrensi pers di Sekretariat GMNI Sumut Jalan Candi Mendur Medan, Sabtu (14/2/2026).

Dikatakan, disamping masalah ASN impor dijabatan strategis malah diisi berdasarkan kedekatan primordial dan titipan dari luar daerah, sehingga profesional berada dititik nadir.

Selain itu menyoroti soal kemiskinan yang terjadi di kota Medan. Pasalnya Pemko Medan bangga atas menurunnya angka kemiskinan 7,25 persen. Namun bungkam terhadap data PJS 2025 terkait kenaikan indeks keparahan kemiskinan.

“Masyarakat yang miskin, semakin miskin. Ketimpangan melebar sehingga membuat jurang sosial semakin parah,” ucap Armando.

Aliansi yang terdiri dari PMII, PMKRI, KAMMI, IMM, GMNI, dan GMKI itu menyatakan aksi kemarin itu merupakan bagian dari evaluasi satu tahun kepemimpinan Wali Kota Medan, Rico Waas.

Mereka menilai, dalam kurun waktu tersebut belum terlihat perbaikan signifikan dalam tata kelola pemerintahan Kota Medan.

Dalam pernyataan resminya, Cipayung Plus Sumut bahkan menyebut kondisi pemerintahan saat ini sebagai “krisis kepemimpinan”.

Apalagi berbagai persoalan mendasar, mulai dari pelayanan birokrasi, penataan kota, hingga transparansi kebijakan,belum menunjukkan arah pembenahan yang jelas.

Aliansi mahasiswa tersebut menegaskan bahwa kritik yang disampaikan merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan daerah.

Untuk itulah nereka mendesak Pemerintah Kota Medan agar lebih responsif terhadap kebutuhan publik dan mampu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas.

Armando, menegaskan, bahwa gerakan mahasiswa tidak akan berhenti pada konferensi pers semata. Jika tuntutan tidak direspons secara serius, mereka siap menggelar aksi lanjutan dengan massa yang lebih besar.

“ Kami akan terus mengawal tuntutan ini. Aksi dengan massa yang lebih besar akan digelar apabila tuntutan kami tidak dipenuhi,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PMKRI Sumut, Sintong Sinaga, mengatakan, dari sembilan tuntutan yang diajukan, satu poin saja sudah dianggap menjawab substansi keseluruhan tuntutan, yakni mundurnya Wali Kota Medan dari jabatannya.

“Jika hanya sebagian tuntutan yang dipenuhi, satu saja sudah cukup yaitu, Wali Kota Medan mundur. Karena menurut kami, lemahnya birokrasi, ketimpangan pembangunan, maraknya korupsi, monopoli bisnis, serta tidak terjaganya iklim investasi merupakan bentuk kegagalan kepemimpinan,” katanya.

Sintong juga menyoroti kebijakan mendatangkan aparatur sipil negara (ASN) dari luar daerah. Ia menilai langkah tersebut mencerminkan kegagalan kaderisasi internal di lingkungan Pemerintah Kota Medan.

“Banyak ASN di Pemko Medan yang kompeten, tetapi justru dilakukan impor dari luar daerah. Ini menunjukkan tidak adanya kepercayaan terhadap sumber daya internal,” ucapnya.

Di sektor usaha, Cipayung Plus Sumut turut menyoroti dugaan praktik “konsultan titipan” dalam pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).

Mereka menilai praktik tersebut sebagai bentuk pungutan liar terstruktur yang berpotensi membunuh investasi lokal karena pelaku usaha kecil dipaksa mengikuti jaringan informal yang tidak transparan.

Selain itu, aliansi Cipayung Plus sumut mengutuk keras tindakan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perkimcikataru yang melakukan pembongkaran tiang reklame secara brutal tanpa koordinasi perpajakan dinilai sebagai bentuk arogansi kekuasaan yang mencederai kepastian hukum bagi pelaku usaha.

“Medan hari ini tidak ramah terhadap investor lokal dan tidak adil bagi pelaku UMKM,” tegas Cipayung Plus

Melalui konferensi pers ini, Cipayung Plus Sumut menegaskan komitmennya untuk terus mengawal jalannya pemerintahan Kota Medan demi terwujudnya tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. (rel/ayu)