Prof.DR. Imran Ahmad, M.P.d Inggris Versus Argentina Laga Dendam

Prof.DR. Imran Ahmad, M.P.d Inggris Versus Argentina Laga Dendam
Dekan Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Medan (FIK UNIMED), Prof. DR. Imran Ahmad, M.P.d. (Foto : ayu)

Medan | bisanews.id | Marc Cucurella yang berhasil ‘mengantongi’ Ousmane Dembele dan Michael Olise kini bisa duduk santai. Timnas Spanyol tinggal menunggu lawannya di Final Piala Dunia 2026, antara Inggris atau Argentina.

Namun berbicara Inggris versus Argentina pada laga babak semifinal nanti, Kamis (16/72026) pukul 02.00 WIB, kedua negara adalah, musuh bebuyutan di ajang piala dunia, sehingga laga nanti merupakan partai dendam.

Apalagi pertemuan di World Cup sejak 1962, Inggris dan Argentina sudah sebanyak 5 kali. Dari jumlah itu, Inggris menang 3 kali, sisanya milik Argentina.

Tapi salah satu momen tak terlupakan bagi The Three Lions saat laga kedua negara terjadi dalam gelaran Piala Dunia 1986 di Jerman, dimana legenda Argentina, Diego Maradona, mencetak Gol Tangan Tuhan (Hand of God) yang termasyhud dengan skor akhir 1-0 untuk Argentina.

Gol kontroversial itu, sangat menyakitkan bagi publik England. Sebab dari kemenangan itu, Argentina melaju jauh dalam edisi 1986, bahkan keluar sebagai juara.

Dan kini, La Albiceleste bakal kembali berhadapan dengan The Three Lions. Bukan hanya rekor laga yang membuat partai ini panas, tetapi juga sejarah konflik politik antar kedua negara.

Untuk itulah Dekan Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Medan (FIK UNIMED), Prof. DR. Imran Ahmad, M.P.d saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/7/2026) mengatakan, awas dilaga krusial ini semua bisa terjadi baik itu, politik, curangnya wasit, bisnis dan pendukung yang bisa jadi faktor utama untuk kemenangan masing-
masing tim.

Namun Imran mengatakan, siapa tak kenal dengan Premier League sebagai liga terbaik di dunia yang isi seperti, Arsenal, Liverpool, Chelse, Man United, Man City dan beberapa klub lainnya yang mencerminkan sepak bola moderen.

Sehingga dalam waktu normal 90 menit, bisa saja Inggris diprediksi memiliki peluang kemenangan 38,2%. Sementara itu, persentase Argentina sedikit lebih rendah kendati tak berbeda jauh, yakni 32,0%.

“Jadi kemungkinan laga berakhir sama kuat dalam waktu normal. Maka pemenang bakal ditentukan lewat babak extra time bahkan, adu penalti,” kata pria yang sangat mencitai Inggris ini

“Jika hanya memperhitungkan siapa yang akan lolos ke final, peluangnya hampir sama persis, dengan Inggris memiliki peluang 51,9% dan Argentina 48,1%-, artnya
selisihnya sangat tipis,” ucap Imran.

Menurut Imran, seperti dikatakan di atas, bahwa aspek politik mungkin memengaruhi Argentina. Karena adanya gesekan antara orang Argentina dan Inggris, misalnya terkait Perang Falklands tahun 1982 silam. Sehingga skuad Argentina mungkin jadi lebih termotivasi, tetapi jika berlebihan, justru menjadi pedang bermata dua.

Selain itu aspek kelelahan kedua negara. Sebelumnya, Inggris mesti berlaga di udara lembap Miami yang menyiksa dan ketinggian Aztec. Sementara itu, anak asuh Scaloni belum lama digeber pertandingan full 120 menit kontra Cabo Verde dan Swiss.

Dan melihat kualitas, maka kedua tim sama-sama memiliki superstar pencetak gol. Tapi pemain The Three Lions yang diasuh pelatih berdarah Jerman, Thomas Tuchel akan membawa Harry Kane dan Bellingham yang sama-sama sudah mencetak 6 gol lebih menggila saat berada di kotak pinalti Argentina nanti.

“Walau Argentina sendiri punya Lionel Messi dengan 8 golnya, Tapi itu tak jaminan Messi leluasa mengoyak jala Inggris. Artinya Messi lebih banyak berharap pada keberuntungan saja. Untuk itulah peran Tuchel sangat dinantikan,” ujarnya serius.

Memang kendala Inggris adalah, sampai sekarang, The Three Lions masih belum menuntaskan permasalahan lini belakang yang sangat mungkin bakal dieksploitasi Argentina. Namun Tuchel bisa mengerti hal itu dengan mengkombinasikan pemain senior dengan yang muda seperti, Konsa, Stones, Guehi, O’Reilly; Rice dan Anderson ditambah pemain depan yang haus gol yakni, Kane, Saka dan Gordon serta Bellingham.

Prof Imran kembali mengatakan, memang Argentina belum pernah kalah dalam 12 laga piala dunia terakhirnya. Ada pun Messi cs terakhir kali kalah kala melawan Arab Saudi di Piala Dunia Qatar 2022 lalu.

Untuk itulah lini depan Inggris yang diisi, Harry Kane siap mencatat penampilan ke-121nya bersama tim nasional Inggris. Kane dan Jude Bellingham sama-sama telah mengoleksi enam gol, menjadikan keduanya kandidat kuat peraih Sepatu Emas.

“Sekali lagi saya katakan, laga Inggris kontra Argentina lebih banyak berbau politik. Jadi para pendukung Inggris saya minta tetap semangat, karena Inggris yang sempat pernah dipegang wanita besi Margareth Tacher tak mau kalah begitu saja,” pungkasnya mengakhiri. (ayu)

Skuas Inggris (4-2-3-1):
Pickford; Konsa, Stones, Guehi, O’Reilly; Rice, Anderson; Saka, Bellingham, Gordon; Kane
Pelatih: Thomas Tuchel.

Skuad Argentina (4-1-3-2):
Emiliano Martinez; Molina, Romero, Lisandro Martinez, Tagliafico; Paredes; De Paul, Fernandez, Mac Allister; Messi, Alvarez
Pelatih: Lionel Scaloni.