MEDAN | Bisanews.id | Atlet disabilitas National Olympic Commite Indonesia (NPCI) Sumatera Utara (Sumut) mengancam akan memboikot Pekan Olahraga Peparnas 2024.
Ancaman tak ikut berlaga membela nama Sumut selaku tuan rumah ajang Peparnas 2024 itu dikarenakan kecewa lantaran tak mendapat tali asih sebagaimana yang diterima atlet umum, baru-baru ini dari Pemprovsu.
Padahal, sebagaimana diketahui, baik atĺet umum dan difabel sama-sama telah mengharumkan nama baik bangsa pada event ASEAN Para Games Kamboja 2023 dengan menyumbang 20 emas, 17 perak, dan 12 perunggu, serta membawa Indonesia juara umum tiga kali berturut-turut. Begitu juga di ajang Asian Para Games 2023 Hangzhou, atlet NPC Sumut menorehkan 8 emas, 5 perak, dan 4 perunggu.
Salah satu atlet yang kecewa tersebut adalah Eko Syahputra. Atlet dari cabor para atletik nomor 100m, 200m, 400m dan estafet khusus kelas T14 atau Y Pralympic yang masuk ranking 10 besar dunia di nomor lari 100 meter T12 putra, saat ditemui di Medan, Selasa (2/1/2024), menilai, ada diskriminasi yang dilakukan Pemprovsu soal dana tali asih yang diberikan kepada atlet umum.
Eko yang meraih emas Asian Para Games 2023 Hangzhou dengan catatan waktu 11,20 detik, mengaku sangat sedih. Sebab, semua yang dilakukannya untuk nama baik bangsa, khususnya bagi Sumut, menurutnya, berakhir sia-sia.
“Padahal Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo telah mengatakan jangan ada perbedaan antara atlet normal dengan disabilitas. Kalau dia berhasil mengharumkan nama bangsa dan negara di event internasional, maka berikan padanya tali asih yang sama dengan yang normal,” kata Eko.
Kalau hal ini tak segera ditanggapi secara serius oleh Pemprovsu, Eko mengingatkan, jangan salah dirinya jika nanti tak turun memperkuat Sumut pada Peparnas 2024.
“Jujur, saya manusia biasa yang butuh penghargaan. Sebab, saya selaku atlet yang mengeluarkan keringat, tenaga dan pikiran, serta keluarga, sangat berharap penghargaan itu. Kan, tak etis, masa peraih medali emas di ajang internasional dilupakan begitu saja. Marilah sama-sama kita profesional,” pungkasnya.
Sementara Syahrul Sulaiman dari cabor blind judo juga mengaku sangat menyesali adanya dugaan diskriminasi oleh Pemprovsu soal tali asih terhadap atlet difabel.
“Saya ada dapat kabar mengenai maju atau mundurnya ajang multi event di Aceh-Sumut, karena pemilu. Tapi, masalah diskriminasi tersebut saya dengar. Dan soal Peparnas 2024, lebih baik kami tak dipakai walau dipersiapkan, dari pada dipakai tapi tak dipersiapkan,” tegas Syahrul.
Menurut Syahrul, sebenarnya masalah diskriminasi terhadap sekelompok orang atau perorangan, merupakan hal biasa di dalam realita kehidupan. Namun, harus juga dipikirkan ke bawah, bagaimana kelanjutan para atlet-atlet yang dipersiapkan menghadapi Peparnas 2024, apakah dilakukan juga hal yang sama.
Artinya, kata Syahrul, pemerintah daerah ini harus lebih bijak dengan melihat lebih ke bawah lagi terhadap regenerasi atlet disabilitas, dan jangan perhatian itu diberikan pada atlet normal saja. Apalagi, mereka sudah dipersiapkan dengan mengikuti program pembinaan serius oleh NPC Sumut berkolaborasi dengan pemerintah daerah.
“Ayo, mari berpikir realita, agar semua dapat berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Sedangkan mengenai boikot, akan saya serahkan ke NPC saja. Sebab, saya besar karena NPC Sumut,” katanya.
Sedangkan Nur Ferry Pradana dari cabor para atletik T 47 sprinter mengatakan, seharusnya Pemprovsu tidak melakukan hal itu. Sebab, apa yang dibuat Pemprovsu jelas telah melukai perasaan para atlet difabel yang sama-sama dengan atlet normal berjuang untuk mengharumkan nama baik bangsa dan negara, bahkan daerah, di pentas internasional dengan torehan medali emas.
“Memang, kami tahu kami ada kekurangan dari atlet normal. Namun, kekurangan itu tak jadi penghalang bagi kami untuk mengharumkan nama baik Indonesia di pentas dunia. Dan itu sudah kami buktikan dengan prestasi maksimal,” kata Ferry, yang saat ini bersama Eko Syahputra menjalani program pelatnas di Solo, Jawa Tengah, dengan nada sedih.
Ferry mengatakan, semua atlet yang berhasil meraih kemenangan pastilah membutuhkan perhatian agar dapat membanggakan nama baik daerah, organisasi olahraganya, pelatih, terutama keluarga, di samping semangat tanding agar tak memudar.
“Untuk itu, saya berharap sama seperti kawan-kawan atlet difabel, agar jangan dipandang rendah. Tapi, harus disamakan juga dengan atlet non disabilitas. Dan agar kita tahu semua, bahwasanya di mata Allah semua manusia itu sama, hanya saja derajatnya yang membedakan. Jadi, tolong disamaratakan mengenai tali asih,” ucap Ferry ketus.
Menurut Ferri, Pemprovsu harus tegas dan bijak menyikapi dugaan diskriminasi terhadap atlet distabilitas NPC Sumut yang telah bersusah payah berjuang di event internasional. (ayu)





