Wong Chun Sen Tekankan Wawasan Kebangsaan Dan Sekolah Ramah Anak Berbasis Pancasila

Wong Chun Sen Tekankan Wawasan Kebangsaan Dan Sekolah Ramah Anak Berbasis Pancasila
Ketua DPRD Medan, Drs Wong Chun Sen, S.P.d.B foto bersama dengan warga pada kegiatan sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila Dan Wawasan Kebangsaanvdi SD 060807 Jalan Gunung Krakatau, Minggu (12/7/2026). (Foto : ayu)

MEDAN | bisanews.id | Ketua DPRD Kota Medan, Drs Wong Chun Sen,S.P.d.B menegaskan pentingnya penguatan wawasan kebangsaan dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan guna mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.

“Wawasan kebangsaan harus terus disampaikan kepada masyarakat. Negara kita berlandaskan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,” kata Wong Chun Sen, saat menggelar sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila Dan Wawasan Kebangsaan, di SD 060807, Jalan Gn Krakatau, Minggu (12/7/2026).

Menurutnya, Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga pedoman hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.

Dikatakan, kegiatan wawasan kebangsaan telah lama menjadi agenda yang dilaksanakan oleh lembaga legislatif, baik DPR RI maupun DPD RI, sebagai upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan.

“Nilai-nilai itu tidak boleh berhenti hanya sebagai hafalan, tetapi harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Wong.

Ia menjelaskan bahwa kelima sila Pancasila memiliki makna yang saling berkaitan dalam membentuk karakter bangsa.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengajarkan masyarakat untuk menghormati kehidupan beragama di tengah keberagaman.

Sementara sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mendorong setiap individu untuk bersikap santun, menghargai sesama, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Menurut Wong Chun Sen, sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa yang terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama.

Ia mengingatkan bahwa semangat persatuan telah diwariskan sejak lahirnya Sumpah Pemuda yang menyatukan berbagai kelompok pemuda dari seluruh Nusantara.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sila keempat mengajarkan pentingnya musyawarah dalam mengambil keputusan.

Nilai tersebut, katanya, tidak hanya diterapkan dalam pemerintahan, tetapi juga dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

“Musyawarah merupakan bagian dari budaya bangsa Indonesia. Dalam keluarga pun, suami dan istri bermusyawarah untuk mengambil keputusan terbaik. Nilai itu harus terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat,”ucapnya.

Wong Chun Sen menambahkan bahwa sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengandung makna perlakuan yang adil kepada seluruh warga negara tanpa membedakan latar belakang.

Nilai keadilan tersebut juga harus diterapkan dalam lingkungan keluarga maupun pendidikan.

Dalam kesempatan itu, ia menyoroti pentingnya penerapan konsep sekolah ramah anak yang berlandaskan Pancasila.

Dikatakannya, sekolah harus menjadi tempat yang bebas dari perundungan, kekerasan, maupun diskriminasi sehingga peserta didik dapat belajar dengan aman dan nyaman.

“Kita masih menemukan anak-anak yang menjadi korban perundungan, kekerasan, atau bahkan mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya di sekolah. Itu bukan cerminan nilai-nilai Pancasila. Sekolah harus menjadi tempat yang membimbing, mendidik, dan membuat anak merasa nyaman untuk belajar,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik.

Tugas guru, lanjutnya, bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga membimbing dan menanamkan nilai moral serta karakter kebangsaan kepada para siswa.

Selain itu, Wong Chun Sen mengutip tujuan pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dijelaskannya, bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik secara spiritual, intelektual, dan moral sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga wahana pembentukan karakter.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat, dapat bersama-sama mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. (rel/ayu)