Angka Stunting Kabupaten Batubara Turun 

Angka Stunting Kabupaten Batubara Turun
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Abdul Fuad Helmi SKM MKes (Foto : Azlan/Bisanews.id)

BATU BARA I Bisanews.idPemerintah Kabupaten Batubara terus berupaya melakukan penurunan prevelensi stunting tahun sebelumnya. Penurunan stunting sendiri didapati dari review Kinerja Stunting Kabupaten Batubara tahun 2021.

Kadis Kesehatan Batubara dr Wahid Khusyairi MM melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Abdul Fuad Helmi SKM MKes, prevalensi stunting di Kabupaten Batubara selama dua tahun berubah cukup signifikan. Pada tahun 2020 per Agustus mencapai 6,09 persen dan per Agustus tahun 2021 menjadi 3,27 persen.

Sebelumnya, Kabupaten Batubara memiliki 25 desa lokus penanganan stunting, meliputi 7 Camat wilayah lokus Stunting dan 15 Puskesmas se Kabupaten Batubara.

“Saat ini sudah terjadi penurunan signifikan sehingga desa lokus stunting berkurang diseluruh lokus stunting di tahun 2021 ini,”ujara Abdul Fuad Helmi SKM MKes, Senin (21/12/21) di Kantor Dinas Kesehatan Batubara.

Ia berharap, dengan penurunan desa lokus stunting tahun 2021, pada tahun 2022 bisa lebih menurun lagi. Sementara, desa yang pernah menjadi lokus stunting tetap didampingi. “Mungkin tahun berikutnya untuk lokus stunting terus bisa kita turun kan lagi, mudah-mudahan nanti. Tetapi untuk intervensi tetap kepada desa-desa yang sudah lokus tidak kita tinggalkan, tetap kita bina,”kata Fuad.

Menurutnya, terlaksananya review kinerja tahunan aksi integrasi Stunting Kabupaten Batubara tahun 2021, dapat mengevaluasi program dan kegiatan sesuai dengan tupoksi masing-masing sehingga menghasilkan program kerja penanganan stunting strategis.

Stunting ini kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah dua tahun, akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai seribu hari pertama kehidupan yakni sejak janin hingga anak berusia dua tahun.

“Dalam mencegah stunting harus di mulai lebih awal, yakni pada masa remaja, karena pendidikan kesehatan dan perubahan perilaku pada remaja menjadi kunci keberhasilan dalam mempersiapkan calon generasi yang bebas dari stunting,”jelas Fuad.

Baca Juga:  Pewarta Polrestabes Medan Berbagi ke Panti Asuhan Yakssindo

Bedasarkan data dihimpun dari Dinas Kesehatan, pertemuan review kinerja tahunan aksi integrasi stunting, dihadiri peserta 74 orang lintas sektoral, OPD, Camat, 25 Kepala Desa dan Ka Puskesmas.

Dasar hukum pelaksanaan, Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, PP No 2 tahun 2018 standar pelayanan, Permendagri No 100 tahun 2018, Permenkes No 4 tahun 2019 standar pemenuhan mutu pelayanan bidang Kesehatan rencana PJP tahun 2005 – 2025.

Selanjutnya, Peraturan Presiden No 42 tahun 2013 tentang gerakan nasoinal perbaikan gizi, PP No 18 tahun 2020 tentang RPJPM Nasional tahun 2020-2024. Permenkes No 23 tahun 2014, Permenkes No 51 tahun 2016, Permenkes No 14 tahun 2019, Permenkes No 2 tahun 2020 dan Permenkes No 86 tahun 2019 tentang DAK bidang Kesehatan tahun 2020.

Kemudian Perbup No 65 tahun 2019 standart Pemkab Batubara anggaran 2020, Perbup No 17 tahun 2020 tentang DAK Non Fisik bidang Kesehatan tahun 2020 dan Perbup No 57 tahun 2021 DAK Non Fisik tahun 2021

“Sesuai keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional No.42/M.PPN/HK/04/2020 tentang penetapan perluasan Kabupaten/Kota lokasi fokus Intervensi penurunan stunting terintegrasi tahun 2021,”tamba Kabid.

Hasil keputusan tersebut Kabupaten Batubara merupakan salah satu Kabupaten lokus sunting di Provinsi Sumatera Utara tahun 2021.

Dalam situasi normal, selain kematian Ibu, kasus stunting masih menjadi tantangan besar, apalagi pada saat situasi bencana yang sedang dihadapi bencana nasional non alam covid-19 sehingga pelayanan kesehatan maternal dan neonatal menjadi salah satu layanan yang terkena dampak baik secara akses maupun kualitas.

Indonesia merupakan salah satu negara mempunyai tiga masalah gizi pada balita (triple burden). Stunting, wasting dan overweight (Global Nutrition Report, 2018).

Baca Juga:  HWK Labura Bantu Natalia Simbolon

Data Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, terdapat 10,2% balita wasting (kasus gizi kurang) dengan 3,5% atau sekitar 2,2 juta balita diantaranya severe wasting (kasus gizi buruk).

Stunting merupakan suatu kondisi dimana tinggi badan seseorang lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya seusia.

Masalah sedang dihadapi dan menjadi tugas bersama dalam penyelesaiannya terkait masalah gizi sangat berkaitan dengan pola perilaku masyarakat, pola asuh dan adanya gangguan pertumbuhan fisik serta pertumbuhan otak pada anak, dalam 1000 hari pertama kehidupan.

“Ini banyak faktor, sosial ekonomi, asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, kekurangan miktonutrien dan lingkungan. Maka perlu adanya perubahan perilaku masyarakat dan pola asuh menjadi lebih baik, memberikan air susu ibu (ASI) yang baik, melaksanakan gerakan hidup sehat serta menerapkan pola hidup sehat,”sarannya.

Abdul Fuad Helmi juga memaparkan, Prevalensi balita stunting mencapai 7,48 % (entry data balita 50,43%) dengan target nasional 21,1%, prevalensi balita wasting (balita sangat kurus dan kurus) mencapai 1,03%. Target nasional 7,8% dan prevalensi balita underweight (balita gizi kurang) mencapai 4,87% dengan target nasional 15% merupakan kondisi di Kabupaten Batubara tahun 2020 berdasarkan data EPPGBM.

Pada tahun 2021 tepatnya bulan Januari, Dinas Kesehatan melakukan kegiatan Gema Pelita secara serempak di masing-masing posyandu maka didapatlah hasil prevalensi balita stunting 6,09% (entry data balita 87,05%) dan pada bulan agustus 2021 progress hasil prevalensi balita stunting mencapai 3,27% (entry data balita (88,09%) , prevalensi balita wasting (balita sangat kurus dan kurus) mencapai 0,87% dan prevalensi balita underweight (balita gizi kurang) mencapai 4,09% berdasarkan data EPPGBM.

“Analisa yang kami temukan sebanyak 84,66% balita belum mempunyai JKN, sebanyak 6,63% balita yang tidak mempunyai air bersih di rumah, 5,40 % balita yang mengalami kecacingan 12,05 % balita tidak mempunyai jamban sehat di rumah, 9,56% balita yang tidak diimunisasi, 91,74% balita terdapat anggota keluarga merokok, 7,92% balita mempunyai riwayat KEK ketika ibunya hamil dan 1,77% balita mempunyai penyakit penyerta,”bebernya.

Baca Juga:  Polisi Ringkus Tersangka Kurir 11,4 Kg Sabu

Atas dasar itu kata Fuad, diperlukan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu dan bersama-sama agar dapat mencegah stunting di wilayah Kabupaten Batubara. Tujuan umum melakukan penilaian terhadap kinerja masing-masing OPD pada kegiatan pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Batubara. Memonitoring dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukan oleh masing -masing lintas program dan lintas sektoral Kabupaten Batu Bara

“Metode pertemuan dilakukan melalui pemaparan, diskusi dan tanya jawab,”tutupnya.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan 3 angkatan, Kamis tanggal 9, Sabtu tanggal 11 dan Selasa tanggal 14 Desember 2021, di Aula Dinas Kesehatan, Kabupaten Batubara. Sebagai Narasumber Team Leader Pendampingan Bangda LGCB ASR Regional 1 Medan.

Sasaran peserta 240 orang, namun Dinas Kesehatan kami menghadirkan 89 orang terdiri 8 puskesmas, 7 puskesmas lokus, 1 puskesmas non lokus dan 77 orang Lintas Program (8 puskesmas non lokus, terdiri dari tenaga pengelola gizi puskesmas, bidan koordinator serta 74 lintas sektoral.

Penanggung jawab pelaksana tehnis kegiatan (PPTK) Manajemen BOK tahun 2021 adalah Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Batubara.

Term of Reference (TOR) menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Batubara.

Related posts