Cadangan Timah Indonesia Cuma Sampai 2046 

Cadangan Timah Indonesia Cuma Sampai 2046
Tambang timah. (Foto: Dok - CNBC Indonesia / Bisanews.id)

JAKARTA I Bisanews.id Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat keberlanjutan industri timah nasional ditaksir hanya tersisa untuk 25 tahun lagi.

Dari catatannya, saat ini cadangan timah hanya mencapai 2,23 juta ton logam timah, dengan tingkat produksi mencapai 0,085 juta ton logam per tahun. Sehingga diprediksi umur cadangan timah hanya sampai pada tahun 2046.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Ridwan Djamaluddin membenarkan cadangan timah nasional diperkirakan hanya tersisa untuk sampai 2046.

“Cadangan itu tidak boleh hanya dinikmati di masa kini saja. Generasi mendatang punya hak untuk ikut menikmatinya. Oleh sebab itu, penting menerapkan prinsip keberlanjutan atau sustainabilitas dalam industri timah nasional,” terang Ridwan dalam Seminar Nasional ‘Sustainabilitas Timah Nasional, Refleksi Harapan dan Fakta’, Senin (13/12/2021), seperti diberitakan cnbcindonesia.com.

Dalam hal keberlanjutan, kata Ridwan, produksi timah memang penting untuk ketahanan perekonomian nasional. Saat ini Indonesia memang tidak sedang diburu-buru waktu untuk menghabiskan sumber daya alam, termasuk timah.

Namun, kata Ridwan, penting untuk kita memanfaatkan momentum yang baik. “Ketika saat ini industri masih membutuhkan timah, kita harus sediakan yang memadai. Ketika harga sedang bagus kita jual pada kondisi harga yang bagus untuk peningkatan penerimaan negara kita,” ungkap Ridwan.

Dari catatan cadangan timah yang tersisa 2,23 juta ton itu, terdapat sebanyak 661 jumlah Izin Usaha Pertambangan (IUP) komoditas timah. Rinciannya, 22 IUP tahap eksplorasi, selebihnya IUP tahap operasi produksi. Sementara untuk lokasinya 460 IUP ada di daratan, dan 209 IUP berada di lautan.

Untuk memanfaatkan jalannya pemanfaatan timah, Kementerian ESDM sudah berkoordinasi lintas kementerian. Diantaranya dengan Kementerian Perindustrian, dalam hal mendorong pemanfaatan timah melalui hilirisasi.

Baca Juga:  Tim Evaluasi PKK Sumut Turun Ke Lubuk Cuik

“Kementerian Perindustrian kita bekerja dekat dalam hal mengatur agar timah yang diperdagangkan ini sudah melalui proses nilai tambah. Kementerian Perdagangan bagaimana kegiatan ekspor sesuai yang mengacu dengan RKAB,” jelasnya.

Inspektur Tambang Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batu Bara, Andri B Firmanto menyampaikan, dari sisi eksplorasi banyak yang mengatakan timah ini beranak-pinak dan tidak habis-habis. “Padahal sebenarnya yang terjadi adalah kita tidak bisa melakukan inventarisasi yang baik melalui kegiatan yang baik,” ujarnya.

Related posts