Seminar Feasibility Study Diharapkan Mampu Dongkrak Sektor Peternakan Simeulue 

Foto : Wakil Bupati Simeulue Hj. Afridawati memberikan arahannya pada pembukaan Seminar Feasibility Study Pembangunan Kawasan Peternakan Terpadu.(Bisanews.id/Ist).

BISANEWS.ID I SIMEULUE I

Wakil Bupati Simeulue Hj. Afridawati didampingi Sekretaris Daerah Ahmadlyah, SH, Kepala Dinas Peternakan Hasrat Abubakar, SP., Kepala Bappeda Zulfadli Abidin, SE , Kepala Dinas Pertanahan Mukhsin, SH, secara resmi membuka Seminar Feasibility Study Pembangunan Kawasan Peternakan Terpadu, Selasa (30/11/2021).

Afridawati dalam arahannya menyatakan saat ini sektor peternakan di Kabupaten Simeulue masih mengandalkan cara dan sistem tradisional dalam mengelola ternak rumenansia besar yang merupakan sektor pendapatan terbesar bagi daerah itu. Sebab hampir 60 sampai 80 persen penduduk Simeulue menjadi peternak rumenansia besar.

Dijelaskannya, populasi ternak Simeulue pada tahun 2018 mencapai 24 ribu ekor, dan diharapkan akan terus berkembang dan menjadi salah satu komoditi yang potensial, selain menjadi salah satu ikon Simeulue yang membanggakan.

Wabup menambahkan, dari data pemotongan dan pengeluaran ternak selama 5 tahun terakhir rata-rata berjumlah 2.406 ekor per tahun. Berdasarkan data-data itu dan pengamatan langsung di lapangan, pihaknya menyimpulkan jika para peternak beralih atau berinovasi dengan teknologi yang lebih modern tentu hasil ternak akan dapat meningkat baik kualitas maupun kuantitas. Sehingga dapat menyerap tenaga kerja serta agrowisata dalam sektor peternakan.

Kata Wabup juga akan dilaksanakan feasibility study atau studi kelayakan oleh tim ahli terhadap rencana pemerintah untuk pembangunan kawasan peternakan terpadu Alafan.

“Ini salah satu ciri khas ternak lokal Simeulue yang banyak ditemui di Alafan, yaitu kerbau Simeulue, yang juga telah mendapatkan pengakuan dan hak paten melalui SK Menteri Pertanian R.I pada tahun 2015, serta komoditi ternak lainnya yang ada di Simeulue”, paparnya.

Wabup berharap, dengan pelaksanaan studi kelayakan ini nantinya Simeulue akan dapat lebih baik dan lebih maju dalam sektor peternakan dan sektor lainnya.

Baca Juga:  Diduga Terlindas KA, Kepala Pria Ini Terpisah dari Badan 

Sementara Kepala Dinas Peternakan Hasrat Abubakar, SP mengatakan Kabupaten Simeulue merupakan wilayah kepulauan penghasil ternak kerbau terbesar di Aceh, yang selama ini sudah berperan dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Selama ini kebutuhan daging daerah lain banyak dipenuhi oleh Kabupaten Simeulue. Adapun populasi kerbau Simeulue saat ini mencapai 21.844 ekor. Sedangkan sapi 5.986 ekor”, kata Hasrat.

Selain itu, tambahnya, sebagian besar masyarakat Simeulue menggantungkan hidup dan biaya pendidikan anak mereka dengan usaha ternak kerbau. “Bisa dikatakan hampir 80 persen bermata pencaharian sebagai peternak kerbau”, imbuhnya.

Kata dia, rumpun kerbau Simeulue sebagai hewan endemik merupakan fauna nasional wajib dilindungi dan dilestarikan, karena telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 579/Kpts/SR. 120/4/2014 tanggal 30 April 2014 tentang Penetapan Rumpun Kerbau Simeulue Sebagai Plasma Nutfah Nasional.

“Meningkatnya permintaan konsumen dari luar daerah terhadap ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau) terutama kerbau Simeulue, berkurangnya padang penggembalaan untuk keperluan perkebunan, pertanian dan pemukiman penduduk menyebabkan kekhawatiran terhadap perkembangan populasi yang dapat menyebabkan kepunahan”, pungkasnya.

Di sisi lain Kepala Pusat Riset Sapi Aceh dan Ternak Lain Prof. DR. Ir. Amhar Abubakar, M.S.I, IPU, A.Eng mengatakan, ditinjau dari tata letak geografisnya, Kabupaten Simeulue merupakan tanah emas bagi peningkatan ekonomi masyarakat, baik dari sisi pariwisata, pertanian, maupun peternakan.

Karena itu dia berharap agar Simeulue mampu menjadi salah satu eksportir hasil alam, termasuk peternakan, sehingga akan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah.

Related posts