Kasus Korupsi Dana BOS, Mantan Kepala SMAN 8 Medan Diadili

Terdakwa Jongor Ranto Panjaitan mantan Kepala SMAN 8 Medan dikawal petugas keamanan usai sidang di PN Medan. (Foto : Ayu/Bisanews.id).

MEDAN | Bisanews.id | Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (7/2/2022), menggelar sidang kasus korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan terdakwa Jongor Ranto Panjaitan mantan Kepala SMAN 8 Medan. Sidang digelar secara online di Ruang Cakra 8 PN Medan.

Porwanas XIII Tanpa Boling, Siwo PWI Sumut Sempat Kecewa

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fauzan Irgi Hasibuan dalam dakwaannya mengatakan terdakwa yang berdomisili di Jalan Kenari III Kelurahan Kenangan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang telah menerima dana BOS sesuai dengan jumlah siswa yang menjadi peserta didik pada SMAN 8 Medan sejumlah Rp1.400.000 per siswa setiap tahun ajaran.

Baca Juga:  Kasus AGM : KPK Telusuri Kemungkinan Adanya Aliran Dana ke Partai
Dengan rincian Tahun Ajaran 2016/2017, 984 Siswa x Rp 1.400.000 = Rp1.377.600.000, 2017/2018 dengan 917 siswa (Rp1.283.800.000) serta di Tahun Ajaran 2018/2019 dengan 934 siswa (Rp 1.307.000.000.

Terdakwa melaksanakan penyaluran dana BOS setiap 3 bulan yaitu, triwulan I sebesar 40 persen dari alokasi 1 Tahun Ajaran, triwulan II hingga IV masing-masing 20 persen.

Jongor Ranto Panjaitan sebagai Kepsek di SMAN 8 Jalan Sampali, Kecamatan Medan Area, Kota Medan itu memiliki tugas serta tanggung jawab di antaranya, mengirim dan mengupdate data pokok pendidikan secara lengkap ke dalam sistem secara online ke Kementerian Pendidikan RI dikenal dengan istilah Data Pokok Peserta Didik (Dapodik).

Baca Juga:  Tes Urine Supir Angkutan Umum di Tanjung Balai, 1 Positif
Memastikan data yang masuk dalam Dapodik sesuai dengan kondisi riil di sekolah, memverifikasi kesesuaian jumlah dana yang diterima dengan data peserta didik yang ada, menyelenggarakan pembukuan secara lengkap, transparan.

Bertanggungjawab secara formal dan material atas penggunaan BOS serta menandatangani surat pernyataan tanggung jawab yang menyatakan bahwa BOS yang diterima telah digunakan sesuai Naskah Perjanjian Hibah (NPH) BOS.

Di sekolah yang dipimpin terdakwa memang ada dibentuk Dewan Guru maupun Komite Sekolah yang bertujuan agar penggunaannya transparan dan bisa dipertanggungjawabkan

Baca Juga:  Petinggi Polsek Patumbak Besuk Aiptu Lasimo
“Namun dalam pelaksanaannya terdakwa tidak melibatkan unsur Dewan Guru maupun Komite Sekolah dan laporan penggunaan dana BOS diyakini tidak bisa dipertanggung jawabkan,” sebut Fauzan.

Akibat perbuatan terdakwa berdasarkan hasil perhitungan Inspektorat Provinsi Sumatera Utara Nomor : Itprovsu.905/R/2019 tanggal 04 November 2019, keuangan negara dirugikan sebesar Rp1.458.883.700.

Jongor Ranto Panjaitan pun dijerat pidana korupsi secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi atau menyalahgunakan jabatan atau sarana yang ada padanya dapat merugikan keuangan.

Yakni dakwaan primair, Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Subsidair, Pasal 3 Jo Pasal 18 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Majelis hakim diketuai Eliwarti didampingi hakim anggota Mohammad Yusafrihardi Girsang dan Rurita Ningrum pun melanjutkan persidangan pekan depan dengan agenda penyampaian nota keberatan dari terdakwa maupun penasihat hukumnya.

Related posts

Program Desa Binaan Bhakti Sosial Kepada Masyarakat Bantuan Sembako